Senin, 23 Desember 2013

Harapan di Dalam Penantian

Kali ini cerita tentang di dalam sebuah organisasi yang membawakan perkenalan bersama orang-orang terhebat, salah satunya perkenalan bersama kamu.
Sosok kamu yang selalu ceria, tersenyum ramah dan mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap orang-orang sekitar, membuat titik ledakan kekaguman serta ketertarikan di dalam hidup orang-orang terdekat, salah satunya aku.
Aku yang dengan cara diam-diam mengagumi sosok seorang kamu, hanya bisa berharap dalam hati. Berharap kelak allah semakin mendekatkan hati dan jiwa kita, berharap allah melancarkan jalan aku dan kamu untuk menjadi kita. Tapi lagi-lagi itu masih dalam harapan atau mimpi dan berharap menjadi kenyataan ketika mata ini terbuka dari keadaan tidur yang indah.

Tidak hanya aku yang merasakan dan berharap demikian, itu sebab nya membuat jalanku mengagumi sosok kamu terasa begitu sulit dan amat sulit. Didalam barisan orang-orang yang mengagumi sosok kamu, aku merasa tak ada apa-apanya, merasa diri ini paling tidak pantas untuk mengagumi sosok kamu yang begitu indah bahkan sangat indah.
Ketika perjumpaan dan senyuman yang kamu berikan membuat aku tetap bangkit dan berdiri tegak untuk tetap mengagumi sosok kamu dan tetap berharap untuk menjadi kita walaupun dalam penantian panjang yang belum diketahui kapan waktu pemberhentian dalam penantian itu tiba, pemberhentian yang indah tentunya.

Lagi dan lagi dalam keadaan tidak pantas untuk mengagumi sosok indah kamu, aku seakan-akan membohongi perasaan ku saat kedekatan kita yang dapat diukur dengan jengkalan tangan saja.
Hari demi hari berulang begitu saja, bukan karena sebuah kata gengsi yang ada didalam diri untuk membuka dan mengungkapkan rasa kekaguman itu, hanya saja aku munafik dengan alasan untuk menjaga sebingkai perasaan yang sama seperti yang aku miliki dan rasa itu dimiliki juga oleh dua orang teman aku untuk sosok terindah yaitu kamu juga.
Rasanya sakit tapi itu tetap tertahan untuk kamu. Maaf aku sudah lancang untuk mengagumi bahkan mencintai sosok kamu secara diam-diam. Rasa ini begitu saja mengalir dengan sangat cepat sampai aku tidak tahu lagi bagaimana cara mengontrol rasa ini.

Masih dalam pengharapan yang sangat besar, jujur aku bahagia sangat bahagia ketika kamu memilih untuk meminjam almamater milik aku.
Ingin rasa nya saat itu juga aku bertanya, kenapa harus milik aku?
Tapi pertanyaan itu tetap tertahan.
Aku disini hanya bisa melihat menit demi menit aktivitas sosok kamu dalam layar kaca bbm dan membaca berulang-ulang kali pesan-pesan yang dikirim untuk aku yang bagi kamu tidak penting untuk seorang yang tidak pantas seperti aku :"
Lirih untuk dipikirkan lebih lanjut didalam kepala ini.

Ini bukan hanya sekedar pengharapan atau keinginan bersama kamu tapi ini sebuah kebutuhan hati yang memlih kamu untuk menempati ruang kosong dihati ini. Ini bukan sekedar ambisi memiliki sosok kamu tapi ini sebuah keikhlasan dalam rasa dihati, keikhlasan untuk menerima segala kenyataan yang akan terjadi ketika mata ini terbuka dan tak sesuai dengan pengharapan.

Izinkan aku untuk mengagumi dan mencintai sosok kamu lebih lama lagi, izinkan aku untuk melukis indahnya dunia dan meraih mimpi-mimpi bersama sosok indah yaitu kamu.
Hati dan rasa tak bisa dipaksakan, tapi keadaan bisa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar